“Jika untuk mendidik satu anak diperlukan kontribusi satu desa, maka untuk membangun peradaban yang baik dibutuhkan kontribusi dari kita semua. Langkah kecil itu telah saya mulai.”
– Achmad Irfandi
Pagi di Pagerngumbuk, Wonoayu, Sidoarjo, tampak cerah. Penuh dengan semangat, riuh dan tawa riang anak-anak, bahkan orang dewasa. Tak lagi sepi karena asik dengan gadget di rumah. Semakin hidup dan berwarna. Teriakan riang, debu beterbangan kini sudah menjadi sahabat bagi semua.
Pemandangan dan suasana masa kecil yang sempat hilang kini kembali hadir. Bisa dirasakan oleh anak-anak yang lahir belasan bahkan puluhan tahun setelah kita. Mereka bisa berlarian di pematang sawah, bermain engklek dan gobak sodor; dan permainan tradisional lainnya.
Semua berawal dari langkah kecil Achmad Irfandi dengan gagasan Kampung Lali Gadget (KLG) di Wonoayu, Sidoarjo, Jawa Timur yang sebelumnya dikenal dengan Dolanan Tanpo Gadget. Sebuah tempat, di mana permainan bukan sekadar hiburan, namun juga sebagai sarana belajar, dan bertumbuh melalui nilai-nilai kearifan lokal.
Berdaya Bersama, Perluas Dampak Gerakan di Masyarakat Komitmen gerakan berdampak terus digaungkan oleh Irfandi dan kawan-kawan melalui program nyata di masyarakat. Di mana tidak hanya berdampak pada mengatasi kecanduan gadget, namun juga memiliki dampak positif pada sektor lain.
Sebagai contoh, dari adanya Kampung lali Gadget, dengan berbagai event yang dimiliki, kini sudah berdiri 3 warung, lebih dari 10 PKL berdatangan dalam setiap event di Kampung Lali Gadget. Ini merupakan bukti nyata kalau sesuatu yang dikelola dengan baik dan profesional bisa mengangkat sisi-sisi lain dalam kehidupan.
“Setiap desa adalah playground yang menyenangkan. Kita ubah mindset kita bahwa playground itu adalah sesuatu yang ada di mall dan terbuat dari besi dan plastik. No, playground itu adalah ruang-ruang terbuka yang bisa diakses oleh anak-anak dan menimbulkan suasana belajar.” Achma Irfandi
Keinginan Irfandi untuk memperluas dampak dari gerakan yang diinisiasinya pada 2018 silam kini sudah dimulai. Menurutnya, semua desa, semua tempat bisa menjadi seperti Kampung Lali Gadget.
Sumber Gambar Instagram Kampung Lali Gadget Dia menuturkan kini kampung bermain lain seperti KLG sudah hadir di beberapa kota seperti di Probolinggo, Demak, dan Tangerang selatan. Untuk membawa dan menularkan nilai-nilai yang sudah dirumuskan, maka para relawan di kota-kota tersebut diberikan pendampingan dan pelatihan oleh tim KLG.
Ke depan, Irfandi berharap, KLG bisa hadir dengan sistem Franchise sehingga bisa lebih masif dan cepat menjangkau seluruh pelosok negeri. Mengenalkan permainan tradisional kepada anak, melestarikan budaya yang ada.
Agar lebih tertata dan terukur, pada Rencana Kerja Tahun 2025/2026 Irfandi menetapkan beberapa hal yaitu pembentukan kurikulum pembelajaran yang terintegrasi antara pelajaran sekolah dan permainan tradisional, pembentukan layanan pengurangan kecanduan gadget terstruktur, pembuatan rute eduwisata terintegrasi, penguatan edukasi pangan dan gizi, dan perluasan area terdampak KLG.
Kampung Lali Gadget, Lahir di Tengah Keresahan “Kalau semua orang berlomba-lomba dalam kemajuan teknologi, lalu siapa yang memikirkan dampak negatif dari perkembangan teknologi itu.” Achmad Irfandi
Perkembangan teknologi yang begitu cepat dan masif dapat menggerus ruang bermain tradisional. Irfandi pun berpikir untuk mengambil langkah nyata. Dia tidak ingin sisi sosial anak-anak hilang dari dunia nyata akibat kecanduan gadget. Dia ingin tawa riang, gerak aktif, dan gotong royong yang menjadi nilai keseharian kembali bangkit.
Dia menyadari satu hal. Anak-anak semakin akrab dan lekat dengan gadget. Berbagai berbagai permainan menarik di dalamnya benar-benar menguasai keseharian mereka. Dia berpikir bagaimana cara agar permainan tradisional yang biasa dimainkan di masa kecil bisa kembali hadir. Membeli tawa riang dan kegembiraan anak-anak, Membebaskan anak dari kecanduan gadget.
Sumber Gambar Instagram Kampung Lali Gadget Kecanduan gadget bukan hanya terjadi di lingkungan tempat tinggal Irfandi saja. Lebih dari itu, sudah melanda sebagian besar anak-anak di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru menyebutkan persentase anak usia dini yang menggunakan telepon seluler meningkat sekitar 39,7% pada 2024, dan 35,57 persen lainnya sudah mengakses internet.
Berbagai tantangan harus dihadapi oleh Irfandi dan kawan-kawan. Mulai dari harus mengubah pola pikir orang tua bahwa bermain di luar rumah bukan membuang waktu, keterbatasan fasilitas, dan dana.
Berbagai cara dilakukan untuk bisa meyakinkan masyarakat. Bersama pemuda di desanya, dia berusaha keras mengenalkan Kampung Lali Gadget. Memberikan pemahaman dan meyakinkan orang-orang sekitar.
Tidak mudah, namun berkat kerja keras, usaha yang dilakukan membuahkan hasil. Semangat gotong royong dan swadaya masyarakat akhirnya mampu mengantarkan hadirnya Kampung Lali Gadget di Wonoayu, Sidoarjo pada April 2018.
Solusi lokal yang bisa dilakukan semua orang. Kehadirannya terbukti bisa mengembalikan keceriaan dan semangat anak-anak. Halaman rumah tak lagi sepi. Sawah-sawah kini dipenuhi keriuhan dan keseruan permainan anak. Sejak didirikan 7 tahun lalu, Kampung Lali Gadget dengan di dukung 50 relawan, hingga kini telah dirasakan manfaatnya oleh 35.240 penerima manfaat.
Sosok di Balik Gerakan Kampung Lali Gadget : Achmad Irfandi
Irfandi adalah lulusan Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya yang memiliki gagasan besar untuk ikut membangun dan memajukan bangsa. Pemuda kelahiran Sidoarjo, tahun 1993 silam, tepatnya tanggal 12 Mei.
Sosok ini dikenal sebagai sosok yang rendah hati, dekat dengan anak-anak, dan memiliki banyak ide kreatif. Dia sadar, anak-anak tidak bersalah dengan gadget yang dimiliki. Semua adalah salah orang tua yang tidak mengenalkan gadget. Tidak mendampingi, apalagi membatasi penggunaannya.
“Anak-anak tidak bersalah dengan gadget yang dimiliki. Semua adalah salah orang tua yang tidak mengenalkan gadget. Tidak mendampingi, apalagi membatasi penggunaannya” Achmad Irfandi
Bagi Irfandi, ini bukan waktu untuk saling menyalahkan. Sebaliknya ini merupakan momentum berharga untuk kembali bangkit. Menjalankan peran orang tua, peran masyarakat agar anak-anak bijak menggunakan gadget. Anak-anak mengenal permainan tradisional dan budaya negeri ini.
Tak hanya itu, dia ingin mengembalikan makna bermain yang tak sekedar hiburan. Lebih dari itu, Irfandi ingin bermain menjadi proses belajar sosial dan mengembangkan emosional anak. Mengajak anak dan warga bersama-sama belajar, bermain, dan menjaga kearifan lokal melalui Kampung Lali Gadget.
Aktivitas dan Konsep Kampung Lali Gadget Pendekatan unik dilakukan untuk bisa mengalihkan anak-anak dari gadget, khususnya saat berada di area Kampung Lali Gadget. Seperti namanya, Lali “Lupa” Gadget, saat di sini anak-anak akan lupa dengan gadgetnya. Asik dengan berbagai aktivitas seru sesuai dengan usia mereka. Konsepnya unik, anak-anak yang datang akan menitipkan gadget mereka, dan mereka kemudian bisa bermain, sambil belajar tanpa terganggu oleh layar.
Awal mula, kegiatan Kampung Lali Gadget diisi dengan kegiatan literasi berupa membaca buku, mewarnai, dan mendongeng. “Buku yang digelar pun seadanya. Di akhir kegiatan anak-anak diajak untuk mengenal aneka jenis makanan tradisional,” ujar Irfandi saat menjelaskan awal mula kegiatan di KLG.
Sumber Gambar Instagram Kampung Lali Gadget Seiring perjalanan waktu, Irfandi dan rekan-rekan terus memunculkan kreativitas dengan melakukan eksplorasi permata nusantara, yaitu permainan tradisional. Berbagai permainan tradisional kemudian mengisi aktivitas anak-anak di Kampung Lali Gadget, di antaranya engklek, gobak sodor, egrang, benthik, dan bermain lumpur.
Tak hanya ingin menghibur, atau memberikan pengalaman bermain permainan tradisional, anak-anak juga diajak untuk bermain di alam dan mengalami apa yang dialami orang tua mereka. Misalnya menanam padi di sawah, mengenal hewan ternak, menangkap belut, dan masih banyak kegiatan seru lainya.
Setiap yang hadir di Kampung Lali Gadget akan mendapatkan pengalaman baru belajar kebudayaan, lebih dekat dengan alam dan pengetahuan, memperoleh bekal keterampilan hidup, dan terlibat aktif dalam aktivitas olah fisik.
Lestarikan Budaya dengan Permainan Tradisional “Permainan tradisional adalah permata Nusantara yang harus dijaga, dikembangkan agar terus berkilau.” Achmad Irfandi
Bagi Irfandi, permainan tradisional adalah objek kebudayaan paling seru. Permainan tradisional yang dikemas sedemikian rupa dan semenarik mungkin akan dapat menarik perhatian anak. Permainan anak bisa menjadi salah satu pintu untuk melestarikan budaya yang dimiliki setiap daerah sebagai kekayaan bangsa.
“Ketika berbicara budaya, maka berbicara pelestarian. Pelestarian adalah menjaga dan ini berbicara regenerasi. Pintu masuknya adalah permainan tradisional, karena tak ada anak yang tak suka bermain,” terang Irfandi saat membicarakan kelestarian budaya dalam hubungannya dengan permainan tradisional.
Makin Dekat dengan Masyarakat Gerakan Makin Berdampak Irfandi menyadari setiap perjalanan akan ada rintangan. Berhasil membangun gerakan harus diiringi dengan bagaimana menjaga agar terus berdampak. Dia menyadari, sistem donasi, swadaya tak akan selamanya membuat sebuah institusi atau lembaga bisa bertahan. Maka dia bersama tim kemudian mengokohkan KLG Social Enterprise.
“Program KLG saat ini kami arahkan ke KLG Social Enterprise, Bisnis Sosial, karena kalau kita bertahan dengan sistem donasi dan swadaya kita tidak akan berkembang. Jadi kita harus mandiri, mampu membiayai sendiri.” Achmad Irfandi
Kini Kampung Lali Gadget dikelola dengan lebih tertata dengan memberikan layanan kepada keluarga, sekolah, komunitas yang ingin lepas dari kecanduan gadget melalui permainan, dan pengenalan budaya lokal.
Ada banyak pilihan yang bisa dipilih masyarakat, komunitas maupun keluarga yang dikemas dalam paket Mainan Berkarakter. Di sini setiap peserta akan terlibat dalam permainan tradisional khas Indonesia yang terstruktur. Tidak hanya itu, peserta juga akan diajak untuk belajar filosofi dan nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya.
Sumber Gambar Instagram Kampung Lali Gadget Untuk mendukung program ini, Kampung Lali Gadget juga mempersiapkan kurikulum khusus yang menggabungkan berbagai metode pembelajaran seperti montessori, experiential learning. Learning by doing, dan masih banyak lagi.
“Tidak hanya sekolah yang ada kurikulumnya, bermain juga ada kurikulumnya,” ucap Irfandi santai dan optimis.
Penerima Apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2021 juga mengajak semua orang untuk berkolaborasi. Tujuannya agar dapat mengimbangi dampak negatif gadget dengan permainan tradisional. Memperluas dampak gerakan agar semakin cepat menjangkau banyak orang di setiap daaerah.
Referensi:
https://kampunglaligadget.com/paket-bermain-berkarakter/
https://kampunglaligadget.com/
https://www.instagram.com/kampunglaligadget/?